Sebuah cerita yang dikisahkan kembali oleh telecaster.
“Jadi siapa itu Tuhan ?”
Augustine mengulang-ulang pertanyaan itu dalam hatinya. Sudah berbulan-bulan , bahkan mungkin bertahun-tahun dia memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Kesederhanaan kata-kata yang membangun pertanyaan itu jelas sangat timpang dengan kedalaman maknanya. Tapi Augustine belum sadar bahwa tidak ada satu manusia pun yang bisa menjawab pertanyaan sederhana itu.
Dia kembali mengingat-ingat ajaran neo-platonisme yang dipelajarinya bertahun-tahun lalu di Roma, diskusi-diskusi dengan Uskup Ambrose di Milan dan kisah hidup Santo Anthony dari Mesir yang merupakan inspirasi besar bagi dirinya. Dia mengantisipasi kalau-kalau jawaban itu tersembunyi dalam semua pengalamannya itu. Dia yakin, sebuah jawaban, atau setidaknya sebuah pembahasan yang mengarah kesana akan muncul dari pikirannya.
Tapi sekali lagi dia menemui jalan buntu. Konsep trinitas ketuhanan yang menjadi misteri terbesar dalam dunia kristiani memang bukan hal yang mudah untuk dipahami. Yesus adalah putra tunggal Allah, tetapi Yesus lahir dari Roh Kudus yang Juga merupakan Roh Allah. Disamping itu, Yesus, Allah dan Roh kudus juga merupakan satu kesatuan. Benar-benar bukan konsep yang sederhana.
Augustine membuka pintu kapel pribadinya. Sejauh ini doanya belum terjawab. Sang uskup tak pernah lelah meminta petunjuk ataupun pencerahan dari Tuhan untuk bisa memahami konsep tritunggal itu. Tapi untuk sekarang dia membutuhkan udara segar. Kalau saja logika bisa dipakai untuk membantunya memahami trinitas itu. Tapi sang uskup tahu, bahwa ketuhanan adalah pemahaman yang jauh dari logika. Dia sudah mengorbankan karirnya sebagai guru besar retorik di Milan dan hidup selibat sebagai pelayan Tuhan untuk mempercayai hal itu.
Perlahan dia menuruni anak tangga gereja dan meninggalkan lingkungan keuskupan. Angin pantai di Hippo saat itu tidak terlalu kencang. Hari sudah sore dan momen itu merupakan saat yang baik untuk berjalan-jalan di pantai. Sudah beberapa tahun belakangan ini dia diberi tugas untuk menjadi uskup di kota pelabuhan ini. Hippo adalah kota dengan arti penting bagi Roma. Di kota pantai inilah Roma menancapkan pengaruh gereja katholiknya di benua Afrika. Letaknya yang berada di pantai utara Afrika membuat arus transportasi penyebaran paham dan idealisme dari Roma menjadi lebih hidup.
Augustine mengambil nafas perlahan-lahan sambil merasakan kenikmatan udara pantai. Dia merasa sedikit lelah setelah sekian lama berpikir tentang konsep trinitas. Tetapi walaupun begitu, kegelisahan tetap ada di dalam kepalanya. Misteri tritunggal sudah mengunci dirinya dalam ruang-ruang gelap pemikirannya yang sebetulnya mustahil untuk dicari pembenarannya.
Dia teringat salah satu ayat dalam injil Lukas yang menuliskan kata-kata Malaikat Gabriel pada Maria.
“Roh kudus akan datang atasmu, dan kekuatan dari yang tertinggi akan menaungimu, dan karena alasan itu anakNya yang kudus akan disebut Anak Allah”.
“Anak dan Bapa adalah satu. Kenapa harus seperti itu?”, pikirnya. Kenapa harus ada tiga rupa kalau pada akhirnya itu semua adalah satu? Kenapa sang Bapa menyebut bahwa Yesus adalah anak, kalau mereka adalah satu?. Pikiran Augustine terus bekerja seiring langkahnya menelusuri pantai.
Pantai Hippo sore itu tampak lengang. Hanya tampak beberapa anak kecil yang sedang bermain-main dengan ombak. Augustine berjalan mendekati salah seorang anak yang sedang menggali di pasir. Dengan lincah, anak itu mengambil pasir dengan kedua tangannya dan membuang pasir itu ke air berulang-ulang kali. Tampaknya sudah agak lama sang anak menggali, karena lubang yang dibuatnya sudah cukup besar untuk memuat tubuhnya sendiri. Augustine terusik untuk bertanya pada anak itu.
“Apa yang sedang kau lakukan nak ?”
“Lubang! Aku ingin membuat lubang yang sangat besar!”, balas sang anak dengan bersemangat.
“Lalu untuk apa lubang itu ?” Augustine semakin penasaran.
“Aku ingin memasukan semua air di lautan ke lubang ini.”
Augustine tersenyum mendengar kepolosan sang anak. Dia tak menyangka sang anak akan menjawab seperti itu.
“Bukan maksudku untuk menghilangkan semangatmu dan membuat usahamu sepanjang sore ini sia-sia nak, tapi sangat tidak mungkin memasukan semua air laut yang luar biasa banyaknya kedalam lubang yang kecil ini.”
Augustine berusaha memberi pengertian sehalus mungkin kepada anak kecil itu.
Anak kecil itu tersenyum dan berkata.
“Begitu juga dengan bapa. Kenapa bapa mau memasukan misteri Allah yang sangat besar kedalam pikiran bapa yang kecil ?”
Jawaban sang anak sangat mengejutkan Augustine. Dia terhenyak akan kepolosan sang anak. Tetapi kepolosan itu membawa kebenaran yang tidak bisa disangkal. Sang uskup terdiam sebentar dan berusaha mencerna seluruh kebenaran yang selama ini dia cari dalam jawaban sederhana itu. Kilatan-kilatan ingatan masa lalu menghampirinya. Dia merasa pernah mendengar suara seperti ini.
Saat dia melihat ke arah anak kecil itu lagi, yang dia dapati hanya lubang kosong di pasir. Dia melihat kesekeliling tapi tidak mendapati keberadaan anak itu.
Pikirannya melayang ke taman belakang rumahnya di Milan bertahun-tahun lalu.
“tolle lege*”
Kata-kata dalam nyanyian anak kecil ditaman itulah yang membuatnya percaya pada Tuhan Allah. Kata-kata ajaib itu yang membuatnya membaca surat Paulus dan berpaling pada ajaran kristiani. Kata-kata sederhana itu juga yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Kejujuran dan kepolosan kata-kata itu sudah membuka tabir cahaya dalam ruang gelap kegelisahannya saat itu. Dan sama seperti saat ini, anak kecil itu tidak bisa dia temui lagi.
Augustine tersenyum sejenak menyadari kebodohannya. Lalu mengambil langkah memutar kearah kota. Dia ingin segera kembali ke kapel pribadinya. Dia ingin berdoa pada Tuhan. Kali ini bukan untuk meminta, tetapi untuk berterima kasih. Sekali lagi, melalui suara yang penuh kepolosan dan kejujuran, Tuhan menyapanya. Augustine mempercepat langkahnya. Ada yang ingin dia tuliskan di kapelnya. Sebuah tulisan tentang pembelajaran dan pemahamannya akan konsep trinitas. Sebuah tulisan yang akan abadi menembus Jaman**. Dan sebuah tulisan yang didasarkan pada sebuah pertanyaan yang sudah ada dipikirannya lama sekali, “Siapa Tuhan ?”.
Hanya saja kali ini dia tidak memerlukan jawaban. Dia tahu Tuhan sudah menjawabnya.
* ”tolle lege” berarti “ambilah dan bacalah”
** ”On The Trinity” adalah buku yang ditulis oleh Augustine atau Saint Augustine from Hippo ( 354 - 430 )